Asesmen Nasional Gantikan UN

Resminya Asesmen Nasional pada tahun 2021 menggantikan Ujian Nasional tentunya akan menimbulkan beberapa perubahan.

Jika UN berpatokan pada nilai akhir yang akan diakumulasikan secara Nasional, pada Asesmen Nasional ini akan berbasis pada tiga poin, diantaranya nilai karakter.

Husna Fadillah, guru SMA PABA Binjai berpendapat bahwa penilaian berdasarkan survey karakter akan membuat penilaian akan bersifat subjektif.

“Nilai UN yang dijadikan standar selama ini saja indikator penilaiannya tidak jelas karena standar penilaian setiap sekolah pasti berbeda, kalau aspek penilaiannya survei karakter jatuhnya penilaian subjektif dan indikator jadi lebih tidak jelas lagi. Jatuhnya penilaian dibuat hanya teori saja sedangkan pengaplikasian di lapangan jauh dari ekspektasi,” ujar Husna.

Namun, Husna sendiri turut mengapresiasi kebijakan dari Menteri.

Dan kedepannya, ia juga berharap saat asesmen Nasional mulai dilaksanakan, sistem dari sekolah harus diperbaiki.

“Sistem sekolah diperbaikinya dulu baru bisa semua yang dicanangkan dari pusat berjalan maksimal. Dan kenapa sistem selalu jadi kendala untuk dijalankan secara maksimal masalahnya di fasilitas. Jadi kalau pusat mau buat keputusan apapun itu, harus ada controling ke setiap sekolah, baik itu negeri maupun swasta,” pungkas Husna.

Hal ini kemudian juga ditanggapi Ridho Simbolon, guru SMP Yayasan Perguruan Safiyatul Amaliyah, Medan.

Ridho turut mendukung pencanangan Asesmen Nasional ini.

“Penghapusan UN dan digantikan menjadi Assesmen kompetensi minimum dan Survey Karakter guru dan sekolah lebih mempunyai peran penting dan kebebasan dalam menguji siswanya sesuai dengan karakternya.

Selama ini UN menjadi momok menakutkan dan menjadi beban bagi siswa ketika menghadapinya, dan yang terjadi selama ini orientasi UN hanyalah kepada nilai yang harus dicapai dengan mengesampingkan pembentukan karakter dan nalar berfikir siswa,” ungkap Ridho.

Tambahnya, Ridho menuturkan bahwa pencanangan Asesmen Nasional ini membuat guru dan sekolah dapat mengevaluasi siswa.

“Digantikannya UN dengan Assesmen kompetensi minimum dan survey karakter tadi membuat sekolah dan guru dapat mengevaluasi peserta didik yang diuji dan memberikan formula dari hasil pengujian tersebut kedepannya, karena proses itu dilakukan di pertengahan jenjang bukan di akhir,” ujarnya.

Namun, Ridho sendiri juga menuturkan bahwa Asesmen Nasional sendiri memiliki efek jika anak akan mengalami penurunan motivasi belajar.

“Penentuan standar penilaian akan berbeda bagi setiap siswa dan sekolah, selain itu motivasi belajar siswa bisa jadi akan berkurang karena tidak ada lagi standard umum yang harus dicapai.

Untuk menghadapi perubahan ini, pemerintahan harus meningkatkan kualitas dari SDM sekolah agar tujuan dari kebijakan ini tercapai secara maksimal,” katanya.

Sumber : medan.tribunnews.com