Mengulik Budaya Penusur Sira

penulis : Cut Hijrin Aulia Rizka

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Indonesia begitu identik dengan ragam budaya. Bahkan Indonesia dikenal dunia berdasarkan budaya yang begitu hebat dan kuat. Sejalannya dengan kemajuan dan modernnisasi Generasi bangsa kita mulai banyak meninggalkan kecintaannya terhadap budaya. Tak jarang kita jumpai generasi sekarang mulai hilang rasa cinta terhadap budayanya sendiri bukan sekedar kehilangan kecintaan bahkan kehilangan budaya dengan ketidaktahuannya terhadap budayanya sendiri. Sumatera Utara yang dikenal dengan sebutan tanah deli ini merupakan salah satu provinsi yang memiliki adat dan budaya yang cukup kental. Adat dan budaya adalah warisan yang begitu mahal dan sangat disayangkan bila ditinggalkan begitu saja tanpa ada peninggalan jejak kepada generasi penerus.
Kali ini saya akan bercerita tentang satu budaya unik dari sumatera utara, salah satu budaya dari suku karo. Penusur sira namaya, yakni salah satu tradisi yang sudah mulai ditinggalkan, dimana adat ini dilakukan suku karo yang berdomisili di daerah pegunungan yaitu di Desa Dokan Kecamatan Merek kabupaten Karo, desa Dokan merupakan satu dari tiga desa pengukir sejarah karo di Kabupaten karo, dua di antaranya desa Lingga dan desa Peceran. Rumah adat karo yang masih ada di desa tersebut dan masih berpenghuni sampai saat ini adalah bukti sejarahnya. Kembali lagi ke tradisi unik Penusur sira dalam bahasa Indonesia yang berarti turun garam. Tradisi ini biasa dilakukan suku Karo dalam setahun sekali. Sira berarti (garam) yang berbentuk pan¬jang seperti padi, hitam dan rasa¬nya cenderung hambar tersebut meng¬gantung di atap rumah, pasti kita kebingungan, tersirat bagi orang yang pertama kali mendengar garam di pegunungan, nah ini dia uniknya terdapat kejadian yang sulit diterima akal karna garam yang dimaksud bukan didapat dari laut tapi dari sebuah baki yang selalu terisi garam di setiap tahunnya. Sira, sejak dulu dipercaya sebagai simbol pertanda keselamatan bagi penduduk. Sampaikan Ketaren mengatakan kisah sira bermula dari sekumpulan anak bermain masak-masakan saat siang hari. Saat mereka bermain, dari dalam tanah muncul tabu-tabu, yakni sira tersebut. Ke¬mudian disimpan dan disembah karena posisinya dianggap bisa memprediksi dengan akurat kondisi keselamatan warga desa yang mewakili sejarah dan peradaban budaya Karo ini
Penusur Sira merupakan tradisi kearifan lokal peninggalan nenek moyang yang masih tersimpan dan dianggap sebagai kelangsungan hidup bagi masyarakat karo, terutama di kalangan petani. “kami berdoa agar hasil panen kami baik dan melimpah dengan kicauan burung-burung diladang kita bisa prediksi itu bagaimana hasil panen kita” ujar Rinda Tarigan salah seorang petani di desa tersebut.
“Sebelum memulai ritual, sebatang padi dan sejumlah daun dengan jenis tanaman yang dapat diperoleh dari hutan. Dari ladang para perempuan akan berlari sekencang mungkin menuju rumah adat dan merampas setiap hasil tanaman dan pakaian milik warga yang ada di jalan. Kemudian warga akan ‘menebus’ hasil tanaman yang dirampas dengan garam, kelapa atau hasil bumi dan bukan dengan uang. Ritual ini benar-benar dianggap suku karo sangat bermakna. Kami menilai dampak ritual ini, yakni warga tidak pernah diganggu dengan bala saat kemana pun pergi.” ujar Ginting kepala persekutuan Margana.
Sebelum melaksanakan penusur sira, tokoh masyarakat sekaligus yang paling mengetahui ritual menjelaskan tentang beberapa jenis tanaman yang dibawa perempuan dalam aksi ritual. Adapun tanaman tersebut diantaranya daun Pakis, yang melambangkan doa supaya penanaman padi berhasil, daun Betah-betah, yang diyakini dapat membuat padi kering menjadi padi berisi, daun Selambing, yang menjadi lambang perkakas pertanian supaya membawa keberhasilan, Engkal, yang berguna untuk menggemburkan tanah sebelum ada traktor pada zaman dahulu, daun Sengketen, yang bermakna apapun hasil pertanian kita, dapat menjadi pundi-pundi, daun Sanggar, yang diyakini dapat mengusir roh jahat, bahkan tikus adalah salah satunya dan daun bertuk yang merupakan simbol perlindungan.
Setelah itu perempuan-perempuan yang membawa tanaman tersebut berjalan menuju lahan pertanian dan melakukan serangkaian proses yang diantaranya: Ngerentes, Mengkal, Bejah, Nampari, Meduki, Ngerongka, Madi-madi, merdang dan Nebu. Seluruh tanaman di tancap ke tanah yang melalui proses tersebut. Kemudian, wanita-wanita itu langsung berlari pulang. Uniknya, tidak ada yang boleh menghalangi jalan atau mereka bisa saja terkena pukulan dari kayu yang dipegang masing-masing wanita tersebut.
Warga disini berharap pada pemerintah daerah khususnya Sumatera Utara, untuk lebih memberi perhatian dengan tradisi kearifan lokal di antaranya ritual adat Penusur Sira ini. Selain itu diharapkan ritual adat Penusur Sira ini dapat menjadi destinasi wisata bahkan menjadi lintasan wisata.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kaya akan budaya. Budaya-budaya lokal semacam ini harusnya tak hanya jadi sekedar ritual mistik saja di era modernnisasi ini. Banyak potensi-potensi yang bisa kita jadikan sumber daya bagi bangsa kita. Budaya yang dianggap sangat kuno harusnya bisa berevolusi menjadi lebih modern penyajiannya tanpa harus meninggalkan makna budaya yang terkandung didalamnya. Dengan begitu generasi muda pun tak enggan ikut andil dalam menjaga kelestarian budaya.
“Jika bukan kita siapa lagi” kata yang tepat untuk membakar api kepedulian dan kecintaan kita terhadap budaya. kitalah yang harus peduli akan kearifan lokal yang ada di lingkungan kita. Kita sebagai generasi penerus, kita sebagai bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

https://analisadaily.com/berita/arsip/2017/5/22/349098/penusur-sira-garam-abadi-dari-dokan/
cut hijrin. “Budaya Penusur sira”. Hasil Wawancara Pribadi. 20 Desember 2020. Desa Dokan Kabupaten Karo

Rumah Karya Indonesia Gelar Ritual Penusur Sira di Dokan Art Festival #3